Catatan Redaksi.
Tidak banyak pengusaha yang berani mengambil alih perusahaan tambang ketika umur operasinya disebut hanya tersisa sekitar dua tahun. Namun, keputusan berisiko itu diambil Haji Robert Nitiyudo Wachjo bersama Ilham Habibie saat mengambil alih PT Nusa Halmahera Minerals (PTNHM) dari Newcrest pada Maret 2020.
Keputusan tersebut bukan tanpa risiko. Di tengah berbagai keraguan, Haji Robert dan Ilham Habibie bahkan sempat dianggap “orang gila” karena berani mengambil alih perusahaan yang dinilai sudah berada di penghujung masa operasinya.
“Ini perusahaan sudah mau tutup, emas sudah habis. Tapi saya yakin masih ada,” ungkap Haji Robert dalam acara Gosowong Bersyukur, 2 Februari 2023.
Keyakinan tersebut menjadi titik awal dari sebuah perjalanan panjang. Bagi Haji Robert, persoalannya bukan semata-mata membeli sebuah perusahaan tambang, melainkan membuktikan bahwa masih ada potensi yang dapat dikembangkan di Gosowong.
Tantangan sudah muncul sejak proses awal pengambilalihan. Pemeriksaan terhadap kondisi tambang disebut hanya diberikan waktu sekitar 24 jam, jauh lebih singkat dibandingkan calon investor lainnya.
Keterbatasan waktu tersebut membuat keputusan investasi menjadi semakin berisiko. Namun, Haji Robert tetap mengambil keputusan untuk melangkah.
Setelah pengambilalihan, tantangan berikutnya tidak berhenti pada persoalan teknis pertambangan. Eksplorasi, keberlangsungan operasi, hubungan industrial hingga membangun kembali kepercayaan karyawan dan masyarakat menjadi bagian dari pekerjaan besar yang harus dihadapi.
Haji Robert kemudian memilih untuk hadir langsung di tengah masyarakat. Komunikasi dibangun dengan karyawan, tokoh masyarakat serta berbagai kelompok masyarakat dan suku di sekitar wilayah operasi tambang.
Bagi Haji Robert, masyarakat bukan sekadar berada di sekitar perusahaan. Mereka merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keberadaan perusahaan itu sendiri.
“Karena sebelum kita datang mereka sudah ada di sini,” katanya.
Pandangan tersebut menjadi salah satu dasar pendekatan yang ingin dibangun dalam menjalankan operasi PTNHM.
Di tengah berbagai keterbatasan dan ketidakpastian, kegiatan eksplorasi terus dilakukan. Keyakinan bahwa Gosowong masih memiliki potensi emas dipadukan dengan kerja keras, ketekunan dan doa.
Namun, belum selesai menghadapi berbagai persoalan tersebut, pandemi Covid-19 kemudian menjadi ujian besar lainnya.
Situasi pandemi menambah kompleksitas pengelolaan perusahaan, terutama dalam menjaga keberlangsungan aktivitas operasional sekaligus memastikan keselamatan pekerja dan masyarakat.

Menambang dengan Hati
Bagi Haji Robert, pertambangan tidak semata-mata berbicara tentang emas, investasi dan keuntungan.
Di balik aktivitas pertambangan terdapat tanggung jawab sosial yang harus berjalan beriringan dengan kegiatan operasional perusahaan.
Semangat tersebut kemudian tercermin dalam moto “Menambang dengan Hati” sebuah gagasan bahwa kegiatan pertambangan harus dijalankan dengan kepedulian, kerendahan hati, penghormatan terhadap masyarakat dan lingkungan, serta memberikan manfaat bagi daerah.
Dalam perspektif tersebut, keberlanjutan perusahaan tidak dapat berdiri sendiri. Dukungan masyarakat menjadi bagian penting dalam perjalanan dan keberlangsungan operasi pertambangan. Hubungan yang dibangun melalui kepercayaan, komunikasi dan manfaat bersama menjadi modal sosial yang tidak kalah penting dibandingkan investasi dan sumber daya mineral.
Karena itu, keberadaan perusahaan tambang di tengah masyarakat bukan hanya mengenai seberapa besar produksi yang dihasilkan, tetapi juga mengenai bagaimana perusahaan mampu membangun hubungan yang berkelanjutan dengan lingkungan sosial di sekitarnya.
Perjalanan mengambil alih PTNHM pada akhirnya menjadi lebih dari sekadar kisah keberanian mengambil risiko bisnis.
Ini adalah cerita tentang keteguhan menghadapi ketidakpastian, keberanian mengambil keputusan ketika banyak pihak ragu, membangun kembali kepercayaan, serta mempertahankan keyakinan bahwa Gosowong masih memiliki masa depan.
Di balik narasi tentang tambang yang disebut hanya memiliki umur sekitar dua tahun, terdapat sebuah pertaruhan besar: apakah keyakinan tersebut dapat dibuktikan melalui kerja keras, eksplorasi dan kemampuan mengelola perusahaan?
Bagi Haji Robert, jawabannya bukan hanya berada di dalam perhitungan bisnis. Ada masyarakat yang harus diperhatikan, karyawan yang harus dijaga, lingkungan yang harus dihormati, dan daerah yang diharapkan ikut merasakan manfaat dari keberadaan tambang.
Pada titik itulah “Menambang dengan Hati” ditempatkan bukan sekadar sebagai moto, tetapi sebagai cara pandang dalam menjalankan pertambangan (***)








