Kopra Anjlok, PT NICO Tetap Serap Buah Kelapa, Jadi “Oase” bagi Petani Halut

Berita703 Dilihat

Marahaipost.com || Di tengah tekanan harga kopra yang membuat petani kelapa di Kabupaten Halmahera Utara (Halut), Maluku Utara, harus berjuang mempertahankan pendapatan, keberadaan PT Natural Indococonut Organik (PT NICO) yang tetap menyerap buah kelapa dinilai menjadi angin segar bagi masyarakat petani.

Bagi petani, persoalan tidak semata-mata soal tinggi atau rendahnya harga. Yang tak kalah penting adalah kepastian pasar ke mana hasil kebun harus dijual ketika harga komoditas sedang tertekan.

Salah satu petani kelapa asal Desa Ruko, Sudarmin Palaema, mengatakan aktivitas pembelian buah kelapa oleh PT NICO sangat membantu petani di tengah kondisi harga kopra yang tidak menentu.
“Kalau ada yang tetap membeli buah kelapa, kami sebagai petani tentu merasa terbantu. Yang penting hasil kebun bisa terjual dan uangnya bisa dipakai untuk kebutuhan keluarga,” ujar Sudarmin, Senin (31/8/2026).

Menurutnya, penurunan harga komoditas langsung dirasakan petani karena pendapatan keluarga sangat bergantung pada hasil kebun. Sementara itu, kebutuhan rumah tangga terus berjalan dan tidak mengenal naik-turunnya harga kopra.

Dalam kondisi seperti itu, tersedianya pembeli menjadi persoalan penting.
“Bagi kami petani, yang penting ada pembeli dan pembayaran juga cepat. Kalau kelapa sudah terjual, uangnya bisa langsung digunakan untuk kebutuhan sehari-hari,” katanya.

Sudarmin menilai keberadaan PT NICO di wilayah Halut tidak hanya memberikan akses pasar bagi buah kelapa. Sejumlah dukungan yang berkaitan dengan rantai pasok komoditas kelapa juga disebut turut membantu petani.

Salah satunya adalah dukungan fasilitas pengangkutan berupa kendaraan Viar yang digunakan untuk membantu proses pengangkutan buah kelapa dari kebun maupun titik pengumpulan.

Menurut Sudarmin, dukungan transportasi tersebut dapat mengurangi beban biaya yang sebelumnya harus ditanggung petani.
“Kalau transportasi dibantu, tentu kami juga terbantu. Petani tidak harus mengeluarkan biaya sewa kendaraan lagi untuk membawa kelapa,” ujarnya.

Ia menjelaskan, biaya transportasi merupakan salah satu komponen yang cukup berpengaruh terhadap pendapatan bersih petani. Ketika biaya angkut tinggi, keuntungan yang diterima petani otomatis semakin kecil.

Karena itu, dukungan terhadap sektor transportasi dinilai dapat membantu menjaga agar hasil penjualan kelapa tetap memberikan manfaat bagi keluarga petani.
Selain aktivitas pembelian buah kelapa, PT NICO juga disebut melibatkan sekitar 4.000 tenaga kerja lokal dalam aktivitas perusahaan.

Keterlibatan tenaga kerja lokal tersebut dinilai memberikan dampak ekonomi yang lebih luas. Pendapatan pekerja tidak berhenti di lingkungan perusahaan, tetapi turut berputar di tengah masyarakat melalui kebutuhan rumah tangga, pendidikan anak, kesehatan hingga aktivitas perdagangan.

Dengan demikian, rantai ekonomi komoditas kelapa tidak hanya menyangkut petani dan pembeli, tetapi juga melibatkan pekerja, pengangkut, pedagang serta berbagai sektor ekonomi lainnya.

Bagi Sudarmin, selain kepastian pasar, kecepatan pembayaran juga menjadi hal penting yang sangat dibutuhkan petani.
“Pembayaran cepat itu sangat membantu. Kami bisa langsung menggunakan uang hasil penjualan untuk kebutuhan keluarga,” katanya.

Ia berharap pola penyerapan tersebut dapat terus dipertahankan sehingga petani memiliki kepastian ketika memasuki masa panen.
“Harapan kami perusahaan tetap bersama petani. Kalau harga sedang turun, jangan sampai petani tidak punya tempat menjual. Kami berharap kerja sama seperti ini terus berjalan,” ujarnya.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan petani kelapa di Halut tidak hanya berhenti pada harga komoditas, tetapi juga menyangkut kepastian pasar, biaya transportasi dan kecepatan pembayaran.

Di tengah fluktuasi harga kopra, perusahaan yang tetap menyerap buah kelapa menjadi salah satu faktor yang dinilai dapat membantu menjaga roda ekonomi petani tetap bergerak.

Bagi Sudarmin dan petani lainnya, hasil kebun yang masih memiliki pembeli bukan sekadar angka dalam transaksi. Di balik setiap buah kelapa yang terjual, ada kebutuhan rumah tangga yang harus dipenuhi, anak-anak yang harus bersekolah dan dapur keluarga yang harus tetap mengepul.
Di tengah “kegersangan” harga kopra, PT NICO dinilai menjadi salah satu “oase” ekonomi yang memberi petani Halmahera Utara ruang untuk tetap bertahan (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *