Marahaipost. com || Transformasi Maluku Utara dari jalur rempah ke jalur energi global merupakan fenomena strategis yang mencerminkan perubahan struktur ekonomi dunia. Meskipun memberikan peluang besar, transformasi ini juga menghadirkan tantangan signifikan dalam aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan.
Muchlis Tapi Tapi, yang merupakan mantan wakil bupati Halmahera Utara dua periode, menegaskan kembali prinsip bahwa sumber daya alam harus dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat.
Menurut Mulis dalam konteks geopolitik, Maluku Utara menjadi wilayah strategis dalam persaingan global untuk mengamankan pasokan energi masa depan. Hal ini meningkatkan posisi tawar Indonesia, namun juga membuka resiko dominasi asing jika tidak diimbangi dengan kebijakan nasional yang kuat.
“Namun kita harus jujur, di balik peluang besar ini, ada tantangan serius—baik dari sisi ekonomi, sosial, maupun lingkungan. Kalau tidak dikelola dengan baik, kita bisa mengulang kesalahan sejarah.” ujarnya, Jumat (27/03/2026).
Politisi partai NasDem ini menambahkan bahwa perubahan dari ekonomi berbasis komoditas tradisional ke industri ekstraktif modern terlihat jelas dengan berkembangnya kawasan industri nikel seperti Kawasan IWIP, Emas di Gosowong dan Toguraci, serta Geothermal di Halmahera, menjadi pusat pengolahan nvestasi internasional dalam skala besar.
Kita berasal dari tanah yang pernah mengguncang dunia. Dari Ternate dan Tidore, cengkih membawa bangsa-bangsa besar datang ke Nusantara.
” Dunia mengenal kita. Dunia membutuhkan kita. Tapi sejarah juga mengajarkan satu hal pahit, kita kaya, tapi bukan kita yang menikmati. Hari ini, sejarah itu datang kembali. Ini bukan sekadar ekonomi. Ini soal keadilan dan penghargaan Negara terhdap wilayah Muloku Kieraha.” tegasnya.
” Dulu kita dikenal karena rempah.
Sekarang kita dibutuhkan karena energi.
Dulu kita jadi rebutan dunia. Sekarang kita harus jadi penentu arah. Ini bukan sekadar momentum ekonomi. Ini adalah kesempatan kedua dalam sejarah generasi.” sambungnya.
Mulis juga megatakan kalau dahulu nenek moyang kita hanya jadi saksi saat dunia mengambil kekayaan kita, maka hari ini kita harus berdiri sebagai pelaku utama.
Dari Maluku Utara, kita kirim pesan kepada mereka, kami bukan lagi jalur rempah yang ditinggalkan.
” Kami adalah jalur energi yang menentukan masa depan negeri ini.” pungkasnya (*)












