Marahaipost.com || Bisnis kelapa di Galela, Kabupaten Halmahera Utara, mulai menunjukkan geliat ekonomi baru sejak hasil panen petani mendapat akses pasar melalui pembelian dalam jumlah besar.
Di tengah dinamika harga dan rantai perdagangan kelapa, muncul cerita Murdam, seorang pengepul yang mengaku berhasil mengembangkan usahanya hingga mampu membangun rumah dan membeli mobil Toyota Hilux untuk menunjang aktivitas bisnis.
Murdam yang awalnya sebagai petani kelapa itu, mengatakan, usaha pengepul kelapa yang dijalankannya tiga tahun lalu berkembang setelah adanya aktivitas pembelian kelapa oleh PT Natural Indococonut Organik (NICO) di wilayah tersebut.
Menurutnya, kehadiran perusahaan membuka peluang bagi masyarakat untuk tidak hanya menjadi petani, tetapi juga mengambil posisi dalam rantai perdagangan sebagai pengepul atau perantara.
Namun, peluang tersebut tidak serta-merta berjalan mulus. Murdam mengaku dari awal hanya memilik modal kepercayaan dengan petani dan dana tidak mencapai ratusan juta kemudian digunakannya untuk mengembangkan usaha.
“Secara perlahan namun pasti saya mulai belajar seluk-beluk bisnis ini. Modal hanya 30 jutaan saya kelola dengan sebaik-baiknya, mulai beli buah kelapa dari harga Rp 500/butir hingga naik menjadi Rp1.500/,” ujar Murdam. Jumat (07/08/2026).
Perkembangan usaha Murdam terlihat dari semakin luasnya jaringan petani yang menjadi pemasok. Ia mengaku saat ini telah memiliki pekerja dan menjalin hubungan usaha dengan ratusan petani kelapa. Aktivitas tersebut membuat perputaran uang dalam bisnisnya juga cukup besar.
“Sekarang saya punya pekerja, relasi dan petani kelapa itu mencapai ratusan orang lebih. Pengeluaran operasional setiap bulan berada di angka Rp100 juta hingga Rp130 juta,” katanya.
Angka tersebut menunjukkan bahwa perdagangan kelapa bukan sekadar aktivitas jual beli hasil kebun, tetapi telah membentuk rantai ekonomi yang melibatkan petani, pengepul, pekerja, hingga transportasi.
Dari usaha tersebut, Murdam mengaku mampu meningkatkan kondisi ekonominya. Rumah berhasil dibangun, sementara sebuah Toyota Hilux dibeli untuk mendukung kegiatan usaha sekaligus kebutuhan sehari-hari.
Namun, kisah tersebut juga menyisakan pertanyaan yang lebih besar, seberapa besar keuntungan dan manfaat ekonomi dari rantai perdagangan kelapa benar-benar kembali kepada petani?
Sebab, semakin panjang rantai distribusi sebuah komoditas, semakin penting pula transparansi mengenai harga di tingkat petani, biaya pengangkutan, kualitas buah, hingga harga pembelian dari pihak industri.

Salah satu petani kelapa di Galela, Rio, mengatakan keberadaan pengepul justru menjadi bagian penting bagi petani karena memberikan akses pasar yang lebih cepat terhadap hasil panen.
“Bagi kami kehadiran pengepul buah kelapa sangat luar biasa membantu masyarakat petani di wilayah Galela. Saya merupakan salah satu relasi daripada Pak Murdam,” kata Rio.
Menurut dia, hubungan antara petani dan pengepul bukan hanya soal transaksi. Dalam kondisi tertentu, pengepul juga menjadi tempat petani mencari solusi ketika menghadapi kebutuhan mendesak.
” Jadi ada petani kelapa yang pinjam uang sampai ratusan juta ke saya, untuk mrlayani kebutuhan mereka,” ungkapnya.
Rio menilai Murdam cukup responsif terhadap kebutuhan petani yang menjadi bagian dari jaringan usahanya.
“Saya ini baru membangun relasi dengan Pak Murdam, tapi merasa sudah lama sekali kami akrab. Saya melihat pelayanannya terhadap petani kelapa sangat luar biasa,” ujarnya.
Di sisi lain, geliat bisnis kelapa di Galela perlu dilihat lebih jauh. Keberhasilan seorang pengepul tidak otomatis berarti seluruh petani telah menikmati peningkatan kesejahteraan.
Justru di sinilah pentingnya keterbukaan mengenai harga komoditas, mekanisme penentuan harga, biaya operasional, serta margin yang diperoleh masing-masing mata rantai perdagangan.
Petani sebagai pemilik komoditas berada di posisi paling awal dalam rantai tersebut. Karena itu, peningkatan aktivitas perdagangan kelapa idealnya diikuti dengan peningkatan pendapatan dan posisi tawar petani.
Kehadiran investor dan industri pengolahan seharusnya tidak hanya meningkatkan volume perdagangan, tetapi juga menciptakan ekosistem yang sehat bagi petani, pengepul, pekerja, dan pelaku usaha lainnya.
Murdam sendiri mengatakan keberhasilan yang dirasakannya juga mulai dirasakan oleh sejumlah rekannya yang ikut bergerak dalam usaha perdagangan kelapa.
“Benar adanya, teman-teman saya yang ikut bergerak di bidang ini di bawah arahan Bapak Janlis Kitong seperti kelompok pak Ikbal juga sudah merasakan perubahan nasib ke arah yang lebih baik,” katanya.
Kini, dengan jaringan petani yang mencapai ratusan orang dan biaya operasional yang disebut mencapai Rp100 juta hingga Rp130 juta per bulan, usaha Murdam menjadi salah satu gambaran bagaimana komoditas kelapa dapat menggerakkan ekonomi lokal.
Tetapi cerita tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa kelapa Galela bukan sekadar komoditas yang menghidupi industri dan pengepul. Di balik setiap buah yang keluar dari kebun, ada petani yang berharap mendapatkan harga yang adil.
Karena itu, tantangan berikutnya bukan hanya bagaimana membuat perdagangan kelapa semakin besar, tetapi bagaimana memastikan nilai ekonomi dari kelapa benar-benar mengalir hingga ke tangan petani.
Jika itu terwujud, maka rumah yang berdiri, kendaraan yang terbeli, usaha yang berkembang, dan roda ekonomi yang bergerak tidak hanya menjadi kisah sukses segelintir orang, tetapi menjadi tanda bahwa komoditas kelapa benar-benar mampu mengubah kesejahteraan masyarakat khususnya di wilayah Galela dan Halmahera Utara pada umumnya (*).








