Pengepul Kelapa Keluhkan Harga dan Kelapa Reject, PT NICO Siapkan Solusi serta Ekspansi Pabrik

Berita, Ekobis659 Dilihat

Marahaipost.com || Puluhan pengepul kelapa dari wilayah Galela, Kabupaten Halmahera Utara, bertemu dengan manajemen PT Natural Indococonut Organik (PT NICO) untuk membahas anjloknya harga beli kelapa serta berbagai kendala yang dihadapi dalam proses penjualan ke pabrik, Sabtu (25/7/2026).

Pertemuan yang berlangsung di Rumah Makan Ikan Mujair Dua Putra itu dihadiri Manajer Pembelian PT NICO, Rully dan Veby, didampingi Humas PT NICO, Decky Tawaris. Kegiatan tersebut difasilitasi Anggota DPRD Halmahera Utara, Janlis Gehanua Kitong.

Dalam pertemuan itu, Humas PT NICO, Decky Tawaris, menegaskan bahwa para pengepul merupakan mitra strategis perusahaan dalam menjaga pasokan bahan baku kelapa dari wilayah Galela, Tobelo, Kao, hingga Malifut.

“Para pengepul ini bukan hanya pelaku usaha, tetapi mitra PT NICO. Mereka bekerja dengan modal sendiri, mulai dari membeli kelapa dari petani, membersihkan lahan, memanjat pohon, hingga mengumpulkan hasil panen. Karena itu, ada biaya operasional yang menyebabkan perbedaan harga di tingkat petani,” ujar Decky.

Ia mengatakan, PT NICO menerapkan sistem pembayaran langsung setelah kelapa diterima, ditimbang, dan diterbitkan nota pembelian.

Menurutnya, perusahaan juga terus meningkatkan kebutuhan bahan baku seiring rencana pembangunan pabrik baru di Halmahera Utara. Karena itu, kemitraan dengan pengepul dan petani akan terus diperkuat.

Harga pembelian kelapa Lewang di daerah lain

PT NICO saat ini membeli dua jenis produk, yakni kelapa utuh dan kelapa kupas (lewang). Harga kelapa lewang dipatok sebesar Rp3.300 per butir, sedangkan kelapa utuh dibeli Rp2.200 per butir.

“Kelapa lewang memiliki nilai jual lebih tinggi. Jika dibandingkan dengan daerah lain, harga yang diberikan PT NICO masih lebih kompetitif,” katanya.

Decky menambahkan, keberadaan PT NICO telah memberikan dampak ekonomi yang signifikan di Halmahera Utara. Perusahaan saat ini menyerap sekitar 4.000 tenaga kerja, belum termasuk ribuan pekerja yang direkrut para pengepul untuk kegiatan pembersihan kebun, pemanjatan, hingga pengangkutan kelapa.

Sementara itu, salah seorang pengepul, Ikbal, mengungkapkan persoalan utama yang dihadapi para pengepul adalah banyaknya kelapa yang ditolak (reject) saat proses sortir di pabrik karena dianggap tidak memenuhi standar ukuran.

Akibatnya, pengepul harus menanggung kerugian karena kelapa yang ditolak harus dibawa kembali.

“Kami berharap sistem sortir bisa dievaluasi. Kalau memungkinkan, kelapa yang reject tetap dibeli dengan kategori tertentu sehingga kami tidak mengalami kerugian,” katanya.

Ikbal mengaku lebih memilih menjual kelapa lewang karena selain harganya lebih tinggi, komoditas tersebut tidak lagi melalui proses penyortiran sehingga lebih menguntungkan bagi pengepul.

Pertemuan tersebut diharapkan menjadi langkah awal memperkuat kemitraan antara PT NICO, pengepul, dan petani kelapa, sekaligus mencari solusi atas persoalan harga dan kualitas bahan baku agar rantai usaha kelapa di Halmahera Utara tetap berkelanjutan (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *