Menyusuri Jejak Pluralisme Benny Laos, Janlis Kitong Datang Membawa Kenangan ke San Diego Hills

Ziarah di Karawang menjadi momentum mengenang sosok Benny Laos dan nilai kebersamaan yang ditinggalkannya bagi Maluku Utara

Berita381 Dilihat

Marahaipost.com || Ada kenangan yang tidak selesai bersama kepergian seseorang. Ia tetap hidup dalam ingatan, dalam perjalanan yang pernah dilalui, serta dalam nilai-nilai yang diwariskan kepada orang-orang yang mengenalnya.

Bagi Janlis Gehanua Kitong, Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Halmahera Utara, ziarah ke makam almarhum Benny Laos di Pemakaman San Diego Hills, Karawang, Jawa Barat, Kamis (15/10/2026), menjadi sebuah kesempatan untuk kembali mengenang sosok yang memiliki tempat tersendiri dalam perjalanan politik dan kehidupan masyarakat Maluku Utara.

Di kompleks pemakaman yang berada jauh dari tanah kelahirannya di Maluku Utara, nama Benny Laos kembali hadir dalam ingatan. Bukan semata-mata sebagai figur yang pernah mewarnai panggung politik daerah, melainkan juga sebagai sosok yang dikenal dengan semangat pluralisme dan kedekatannya dengan berbagai kalangan masyarakat.

Bagi sebuah daerah yang tumbuh dari keberagaman suku, agama, budaya, dan tradisi, pluralisme bukan sekadar istilah. Ia merupakan bagian penting dari kehidupan bersama, sebuah kesadaran bahwa perbedaan tidak harus menjadi sekat yang memisahkan, tetapi dapat menjadi kekuatan untuk membangun persaudaraan.

Nilai itulah yang menjadi salah satu sisi penting ketika sosok mantan bupati kabupaten pulau Morotai Benny Laos dikenang.

Perjalanan politik seorang tokoh sering kali meninggalkan catatan tentang jabatan, keputusan, dan peristiwa yang pernah dilaluinya. Namun, di luar catatan tersebut, ada hal lain yang tidak kalah penting: bagaimana sosok itu dikenang oleh masyarakat dan nilai apa yang tetap relevan setelah kepergiannya.

Benny Laos, suami dari Gubernur Maluku Utara (Malut) Sherly Tjoanda merupakan salah satu figur yang dikenal dalam dinamika politik dan kepemimpinan di Maluku Utara. Kiprahnya menjadi bagian dari perjalanan daerah yang terus berupaya membangun kehidupan masyarakat di tengah keragaman.

Bagi Janlis Kitong, ziarah ke makam almarhum menjadi bentuk penghormatan sekaligus ruang untuk mengenang perjalanan tersebut.

Ziarah bukan hanya tentang mendatangi tempat peristirahatan terakhir seseorang. Lebih dari itu, ziarah menghadirkan kesempatan untuk berhenti sejenak, menengok kembali jejak yang ditinggalkan, dan merefleksikan nilai-nilai yang dapat terus dijaga.

Di tengah kesibukan politik dan berbagai agenda organisasi, momen seperti ini mengingatkan bahwa hubungan antarmanusia tidak selamanya diukur melalui kepentingan atau posisi. Ada penghormatan, persaudaraan, dan kenangan yang tetap memiliki arti.

Maluku Utara memiliki kekayaan sosial yang dibentuk oleh keberagaman masyarakatnya. Perbedaan keyakinan, latar belakang budaya, dan identitas sosial merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari yang membutuhkan ruang saling menghormati.

Mengenang Benny Laos sebagai tokoh pluralis berarti mengingat kembali pentingnya membangun hubungan yang melampaui perbedaan. Sebab, kehidupan masyarakat yang harmonis tidak terbentuk hanya melalui kata-kata, tetapi juga melalui sikap terbuka, penghargaan terhadap sesama, dan kesediaan untuk hidup berdampingan.

Nilai-nilai itu tetap relevan bagi Maluku Utara, termasuk bagi generasi muda yang kelak akan mengambil bagian dalam kepemimpinan dan pembangunan daerah.

Politik, pada akhirnya, tidak hanya berbicara tentang perebutan ruang kekuasaan. Politik juga memiliki tanggung jawab untuk merawat kehidupan bersama, menjaga persatuan, serta memastikan bahwa perbedaan tidak menghilangkan rasa persaudaraan.

Di sinilah kenangan terhadap seorang tokoh dapat memperoleh makna yang lebih luas: bukan hanya tentang siapa dirinya pada masa lalu, melainkan juga tentang nilai apa yang dapat diteruskan pada masa mendatang.

Jarak geografis antara Karawang dan Maluku Utara tidak menghapus ingatan tentang perjalanan seorang tokoh yang pernah menjadi bagian dari dinamika daerah tersebut.

Melalui ziarahnya, Janlis Kitong menunjukkan penghormatan kepada almarhum Benny Laos. Momen itu sekaligus menjadi pengingat bahwa setiap perjalanan kepemimpinan meninggalkan catatan, sementara setiap hubungan antarmanusia menyimpan kenangan dengan maknanya sendiri.

Di tengah perubahan zaman dan dinamika politik yang terus bergerak, nilai kebersamaan, toleransi, dan penghormatan terhadap keberagaman tetap menjadi fondasi penting bagi masyarakat Maluku Utara.

Benny Laos telah menjadi bagian dari sejarah perjalanan daerah itu. Sementara bagi mereka yang mengenangnya, jejak seorang tokoh tidak berhenti pada akhir perjalanan hidupnya.

Ia dapat terus hadir melalui cerita, penghormatan, dan nilai-nilai yang diwariskan.

Sebab, pada akhirnya, yang membuat seseorang tetap dikenang bukan hanya perjalanan yang pernah ditempuhnya, tetapi juga makna yang tertinggal bagi orang-orang dan masyarakat yang pernah menjadi bagian dari kisah hidupnya (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *