DPC GMNI Halmahera Barat Soroti Kenaikan BBM di Tengah Pelemahan Rupiah

Berita179 Dilihat

Marahaipost. com || Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Halmahera Barat menyoroti kenaikan harga BBM non-subsidi yang kembali terjadi di tengah tekanan ekonomi dan pelemahan nilai tukar rupiah.

Ketua Caretaker DPC GMNI Halmahera Barat, Christian Loudtik, melalui siaran pers, Rabu (10/06/2026) menilai kenaikan harga Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, serta penyesuaian pada sejumlah jenis BBM non-subsidi lainnya, akan memberikan dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat, khususnya di daerah kepulauan seperti Halmahera Barat.

Menurutnya, masyarakat Halmahera Barat memiliki ketergantungan tinggi terhadap sektor transportasi. Banyak warga menggantungkan penghasilan sebagai pengemudi ojek, bentor, sopir angkutan, hingga pelaku usaha kecil yang bergantung pada distribusi barang.

“Kenaikan BBM di Halmahera Barat tidak hanya berdampak pada biaya transportasi, tetapi juga mendorong kenaikan harga kebutuhan pokok karena biaya distribusi ikut meningkat. Pada akhirnya masyarakat kecil yang menanggung beban paling besar,” ujar Christian.

Ia juga menyoroti korelasi antara pelemahan rupiah dan kenaikan BBM. Menurutnya, ketika nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat, biaya pengadaan energi menjadi lebih mahal sehingga tekanan terhadap harga BBM semakin besar.

“Masyarakat mungkin tidak mengikuti pergerakan kurs setiap hari, tetapi mereka merasakan dampaknya saat harga-harga mulai naik. Pelemahan rupiah dan kenaikan BBM adalah kombinasi yang berpotensi menekan daya beli masyarakat sehingga melahirkan kemiskinan sistemik” katanya.

Christian mengingatkan pemerintah agar tidak hanya melihat persoalan BBM dari sisi fiskal semata, tetapi juga memperhitungkan dampak sosial yang dirasakan masyarakat daerah.

“Kita memang belum berada pada situasi krisis moneter seperti tahun 1998. Namun gejala yang dirasakan masyarakat hampir sama, yakni harga-harga yang terus meningkat sementara pendapatan tidak mengalami kenaikan yang sebanding. Karena itu pemerintah harus lebih serius menjaga daya beli rakyat,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *