Perdamaian dan Kasih dalam Kehidupan Kebangsaan

Opini121 Dilihat

Oleh : Alfon Gisisi: (Ketua DPD GMNI Maluku Utara)

Teman-teman, perdamaian bukanlah sekadar keadaan tanpa konflik, melainkan sebuah konstruksi sosial yang dibangun melalui kesadaran kolektif, empati dan komitmen moral setiap warga negara. Dalam perspektif ini, kita memahami bahwa kehidupan berbangsa, bernegara dan bahkan berdaerah, termasuk di Maluku Utara menuntut kerja-kerja kebudayaan yang terus-menerus dijaga, tidak sekadar retorika seremonial.

banner 970x250

Karenanya, mari di setiap momentum keagamaan, seperti Jumat Agung dan Jumat Berkah, dimaknai sebagai ruang refleksi untuk meneguhkan kembali nilai-nilai kemanusiaan yang luhur. Bahwa, nyaris semua peradaban besar di dunia menempatkan cinta kasih sebagai fondasi utama dalam membangun harmoni sosial.

Dalam tradisi iman Kristiani, misalnya, terdapat pesan yang sangat mendalam dalam Injil Yohanes 13:34: “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu, demikian pula kamu harus saling mengasihi.” Pesan ini bukan sekadar ajaran spiritual, tetapi juga prinsip etik yang konsisten dalam kehidupan kita, termasuk dalam praktik kepemimpinan berbangsa dan bernegara.

Hemat saya, dalam horizon yang lebih luas, perdamaian juga merupakan proyek kemanusiaan global. Sebagaimana pernah ditegaskan oleh Mahatma Gandhi: “Tidak ada jalan menuju perdamaian, perdamaian adalah jalannya.” Kutipan ini mengingatkan kita bahwa perdamaian bukan tujuan akhir semata, tetapi proses yang harus dihidupi setiap hari: dalam sikap, dalam kebijakan dan dalam relasi sosial. Dengan demikian, setiap individu memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi agen perdamaian di lingkungannya masing-masing.

Tentu, dalam konteks lokal kita yang sering disebut dengan ungkapan khas “torang samua basudara” terdapat nilai kultural yang sangat kuat sebagai modal sosial. Nilai ini bukan hanya slogan, tetapi harus dihidupi secara konkret dalam menjaga persatuan dan kesatuan, menghindari polarisasi, serta menolak segala bentuk ujaran kebencian yang berpotensi merusak kohesi sosial. Juga pendekatan yang lebih humanis dan dialogis menjadi penting agar perbedaan tidak berubah menjadi perpecahan.

Karena itu, izinkan saya menegaskan kembali: Torang samua doakan negeri ini agar senantiasa diliputi kedamaian dan kasih sayang. Semoga momentum Jumat Agung dan Jumat Berkah ini membawa berkah, harapan baru, serta memperkuat rasa kemanusiaan kita. Torang samua basudara, mari kita jaga terus persatuan dan kesatuan, sebagai fondasi utama dalam merawat masa depan negeri ini (*)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *