Di Halmahera Utara, terutama di kampung-kampung pesisir, kelapa itu bukang barang baru. Dari Kitong masih kacili sampe rambut so putih, pohon kelapa tetap berdiri di situ-situ saja. Tra pindah, tra protes, trada minta apa-apa. Tapi anehnya, hidup orang yang rawat ma kalapa dari dari dulu sampe sekarang masih bagitu-bagitu saja.
Kalapa banyak. Kobong luas. Pohon tinggi. Tapi kesejahteraan? Masih jauh-jauh di seberang laut.
Orang Tobelo biasa bilang: “Torang karja tikang lutut tapi hasilnya tara parna cukup.” Itu kalimat jujur. Bukan mengeluh, tapi menyatakan keadaan. Karena di balik kerja keras itu, ada sistem yang tara pernah benar-benar berpihak.
Harga Bisa Turun, Hati Petani tarada yang Tanya
Tiap kali harga kelapa bagus. Petani senyum. Depe barikut turun. Senyum hilang. Tarada ada pemberitahuan, tarada alasan jelas. Tiba-tiba saja orang pengumpul bilang: “Harga so turun, kalo mau jual, ini harganya.”
Petani mau bilang apa? Mau protes? Kalapa so masak. Kalo tara jual, busuk. Kalo jual, rugi. Ini bukan pilihan, ini jebakan.
Orang-orang pintar bilang ini hukum pasar. Tapi bagi petani, ini hukum kuat makan yang lemah. Yang punya modal dan gudang bisa tunggu harga naik. Petani kecil? Tara bisa tunggu, dapur tra tunggu.
Kelapa Jadi Komoditas, Petani Tetap Jadi Penonton
Kelapa sering dibicarakan dalam rapat-rapat. Katanya komoditas unggulan. Katanya andalan daerah. Tapi anehnya, setiap kali kelapa disebut, yang duduk di depan mic bukan petani. Yang bicara panjang lebar bukan orang kobong.
Petani cuma disebut dalam kalimat: “Perlu diberdayakan.” Tapi setelah itu? Tara jelas.
Kelapa jadi komoditas, tapi petani tetap penonton. Lihat orang lain hitung untung, lihat orang lain atur harga, lihat orang lain bangun Pabrik . Sementara torang tetap di kebun, tetap di titik paling awal.
Hilirisasi yang Tara Pernah Turun ke Kampong :
Sekarang orang suka bicara hilirisasi. Katanya mau tambah nilai. Katanya mau bikin petani sejahtera. Tapi di kampung, realitasnya lain.
Mesin pengolahan tarada ada. Modal pe susah cari lebe gampang cari jarum di rumput. Akses pasar tara jelas. Yang ada cuma janji dan spanduk. Torang dipaksa hanya jual buah kalapa ke NICO , kalo tarada tong fufu kopra yang depe harga juga dong kase turun nae sama deng yoyo.
Minyak kelapa, VCO, sabun, arang tempurung—semua itu ada ceritanya di seminar. Tapi di kebun, petani masih jual kelapa bulat, harga ditekan, ongkos angkut mahal.
Hilirisasi berjalan di atas kertas, tapi tara pernah singgah di rumah petani. Hilirisasi hanya jadi alat pa dorang tekan harga jual buah kalapa.
Kerja Keras Tra Salah, Sistemnya yang Salah
Jangan bilang petani malas. Itu penghinaan. Orang bangun subuh, panjat pohon, pikul kelapa, jalan kaki jauh—itu bukan malas.
Masalahnya, kerja keras itu berhadapan dengan sistem yang dari awal so berat sebelah. Sistem yang bikin petani selalu di bawah, selalu tergantung, selalu disuruh sabar.
Sabar boleh, tapi kalo tiap tahun sabar terus, anak sekolah pakai apa? Rumah diperbaiki pakai apa? Hidup layak itu bukan mimpi berlebihan.
Torang Butuh Keberpihakan, Bukanh Janji Abuleke
Kitorang tra butuh pidato panjang. Torang butuh kebijakan yang terasa. Harga yang punya batas bawah. keberpihakan kepada petani kelapa yang benar-benar jalan. Akses modal yang tra bikin petani takut utang.
Pemerintah, DPRD, semua yang bilang wakil rakyat—jangan datang cuma waktu panen atau musim kampanye. Datang waktu harga jatuh. Datang waktu petani terjepit.
Karena di situlah keberpihakan diuji, bukan di baliho.
Penutup
Kelapa di Halmahera Utara tara pernah pilih-pilih siapa yang rawat. Dia tumbuh untuk semua. Tapi sistem yang tong bangun hari ini, cuma pilih segelintir orang untuk untung besar.
Kalo kelapa tetap banyak tapi hidup orang kebun tetap tarada, berarti yang rusak bukan alam. Yang rusak itu cara torang mengatur keadilan.
Dan kalo ini terus dibiarkan, nanti tong cuma bisa cerita ke anak cucu:
“Dolo kelapa banyak, tapi torang tara pernah rasa sejahtera.”









