Mahasiswa Unhena Belajar Teknik Penulisan Berita, Ketua PWI Halut Tekankan Pentingnya Verifikasi

Berita26 Dilihat

Marahaipost.com || Mahasiswa Program Studi Administrasi Bisnis Universitas Hein Namotemo (Unhena) mendapat pembekalan ilmu jurnalistik melalui kegiatan sharing teknik pembuatan berita yang berlangsung di Kampus Unhena, Sabtu (31/10/2026).

Kegiatan tersebut menghadirkan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Halmahera Utara (Halut), Rachman Baba, sebagai pemateri. Dalam kesempatan itu, mahasiswa dibekali pemahaman mengenai dasar-dasar jurnalistik, teknik penulisan berita, hingga pentingnya melakukan verifikasi sebelum menyebarluaskan informasi kepada publik.

Dalam pemaparannya, Rachman menjelaskan pengantar ilmu jurnalistik serta Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Ia juga menguraikan perbedaan antara media massa yang berbadan hukum pers dengan media sosial yang tidak menjalankan fungsi sebagai perusahaan pers.

Menurutnya, produk jurnalistik yang diterbitkan perusahaan pers berbadan hukum memiliki mekanisme perlindungan berdasarkan Undang-Undang Pers. Jika terdapat pihak yang merasa dirugikan oleh pemberitaan, penyelesaiannya dapat ditempuh melalui mekanisme hak jawab dan hak koreksi.

“Kalau produk jurnalistik berupa berita pada media massa berbadan hukum pers menimbulkan keberatan atau ada pihak yang merasa dirugikan, maka bisa ditempuh melalui hak jawab. Karena itu, penyelesaian sengketa pemberitaan harus mengacu pada mekanisme yang diatur dalam undang-undang pers,” jelasnya.

Sebaliknya, ia mengingatkan bahwa unggahan di media sosial tidak serta-merta dapat dikategorikan sebagai produk jurnalistik yang memperoleh perlindungan berdasarkan Undang-Undang Pers. Karena itu, mahasiswa perlu memahami perbedaan antara karya jurnalistik yang diproduksi perusahaan pers dan konten yang disebarluaskan melalui akun media sosial pribadi.

Rachman juga menekankan perbedaan mendasar antara informasi dan berita. Menurutnya, informasi merupakan bahan keterangan awal yang masih membutuhkan proses pemeriksaan, sedangkan berita harus melalui tahapan verifikasi untuk memastikan kebenarannya.

“Informasi itu hanya bahan keterangan awal. Misalnya, ada seseorang menyampaikan bahwa terjadi kasus pencurian di suatu tempat. Informasi tersebut harus diverifikasi terlebih dahulu dengan turun ke lapangan, melakukan cek dan ricek, serta meminta keterangan dari narasumber terpercaya, termasuk pihak-pihak yang berkaitan dengan peristiwa tersebut. Proses inilah yang disebut verifikasi,” ungkapnya.

Ia menegaskan, mahasiswa sebagai kaum intelektual harus memiliki tanggung jawab dalam menyaring setiap informasi sebelum membagikannya kepada masyarakat.

“Jangan sampai mahasiswa sebagai insan intelektual ikut-ikutan menyebarkan informasi yang belum tentu kebenarannya. Dampaknya bisa sangat luas, berbahaya, bahkan merusak tatanan ketertiban masyarakat,” tegas Rachman.

Selain itu, mahasiswa juga diperkenalkan dengan dasar-dasar penyusunan berita melalui rumus 5W+1H, yakni what (apa), who (siapa), where (di mana), when (kapan), why (mengapa), dan how (bagaimana).

Ia berharap, materi yang dibagikan dapat menambah wawasan mahasiswa, khususnya mereka yang terlibat dalam kegiatan penerbitan dan pengelolaan media kampus.

Rachman bahkan membuka ruang bagi mahasiswa untuk berdiskusi dan berkonsultasi langsung dengan anggota PWI Halut terkait penulisan berita, penerapan kode etik jurnalistik, maupun berbagai persoalan yang berhubungan dengan dunia pers.

“Silakan berkonsultasi, berdiskusi, dan sharing dengan kami di PWI. Kami siap membantu adik-adik mahasiswa. Tentang kode etik jurnalistik atau apa saja yang berkaitan dengan produk jurnalistik, silakan. Pintu PWI selalu terbuka untuk adik-adik mahasiswa,” tandasnya.

Sementara itu, Dosen Program Studi Administrasi Bisnis Unhena, Glend Huliselan, menyambut baik kolaborasi tersebut. Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan guna menumbuhkan minat dan kemampuan menulis di kalangan mahasiswa.

Menurut Glend, penyampaian materi secara langsung oleh praktisi jurnalistik memberikan pengalaman dan pemahaman baru bagi mahasiswa, terutama mengenai hal-hal teknis yang selama ini belum banyak mereka ketahui.

“Ternyata banyak hal yang belum diketahui. Melalui kegiatan ini, kami jadi lebih paham karena yang menyampaikan langsung adalah praktisinya. Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi mahasiswa,” kata Glend.

Kegiatan tersebut diharapkan menjadi langkah awal memperkuat budaya literasi dan kemampuan jurnalistik di lingkungan kampus, sekaligus mendorong mahasiswa agar lebih kritis, cermat, dan bertanggung jawab dalam mengolah maupun menyebarluaskan informasi. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *