Sentuhan Humanis Polwan Bhabinkamtibmas di Sekolah, AIPDA Yuni Tuange Dorong Anak-Anak Tobelo Selatan Berani Bermimpi Besar

Berita880 Dilihat

Marahaipost.com || Pagi baru saja dimulai ketika sosok berseragam polisi memasuki halaman SMP Negeri 23 Kecamatan Tobelo Selatan, Jumat (2/10/2026). Bukan untuk melakukan penindakan, bukan pula sekadar menjalankan tugas rutin kepolisian.

Hari itu, AIPDA Yuni Tuange, S.Th., Polwan Bhabinkamtibmas Desa Kupa Kupa, Polsek Tobelo Selatan, hadir membawa pesan tentang masa depan.

Di hadapan para pelajar, ia berbicara tentang kesempatan. Tentang pendidikan. Tentang mimpi yang bisa diraih sejak bangku SMP.

Dengan gaya komunikasi yang hangat dan humanis, AIPDA Yuni memperkenalkan SMA Kemala Taruna Bhayangkara, sekolah unggulan berasrama binaan Polri yang membuka kesempatan bagi generasi muda untuk mendapatkan pendidikan sekaligus membangun kedisiplinan dan karakter.

Bagi sebagian pelajar, informasi tersebut mungkin terdengar seperti sekadar sosialisasi. Namun cara AIPDA Yuni menyampaikannya membuat suasana terasa berbeda.

Ia tidak hanya menjelaskan nama sekolah, tetapi juga menggambarkan bagaimana para siswa nantinya ditempa menjadi pribadi yang mandiri, disiplin, berkarakter dan memiliki prestasi.

“Kesempatan seperti ini jangan dilewatkan. Kalau memiliki cita-cita, persiapkan diri sejak sekarang,” pesan AIPDA Yuni kepada para pelajar.

Dalam sosialisasi tersebut, AIPDA Yuni menjelaskan berbagai hal yang perlu diketahui calon peserta Penerimaan Siswa Baru SMA Kemala Taruna Bhayangkara Tahun Ajaran 2027/2028.

Mulai dari tahapan seleksi, jadwal SPMB hingga persyaratan pendaftaran disampaikan secara sederhana agar mudah dipahami para pelajar.

Untuk persyaratan umum, calon siswa harus beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, setia kepada NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, sehat jasmani dan rohani, serta belum genap berusia 17 tahun pada 1 Juli 2027.

Calon siswa juga harus bersedia tinggal di asrama selama tiga tahun masa pendidikan.

Sementara untuk persyaratan khusus, calon peserta diwajibkan memiliki nilai minimal 80 untuk mata pelajaran Matematika, IPA dan Bahasa Inggris pada semester 1 hingga semester 4.

Penjelasan tersebut sekaligus menjadi pengingat bagi para siswa bahwa peluang besar membutuhkan persiapan yang tidak kalah besar.

Kehadiran AIPDA Yuni di sekolah juga memperlihatkan wajah lain dari tugas Bhabinkamtibmas.

Di tengah seragam dan kewajiban sebagai anggota Polri, ia hadir sebagai sosok yang dekat dengan dunia anak-anak. Bahasa yang digunakan tidak berjarak. Pesan yang disampaikan pun tidak sebatas aturan.

Selain pendidikan, AIPDA Yuni menitipkan pesan Kamtibmas kepada para pelajar. Ia mengingatkan mereka agar menjauhi kenakalan remaja, bullying, pergaulan bebas serta tidak sembarangan menggunakan media sosial.

Pesan itu menjadi bagian penting dari pertemuan tersebut. Sebab membangun generasi masa depan tidak hanya berbicara tentang nilai akademik, tetapi juga tentang karakter dan perilaku.

Dari ruang sekolah itulah, peran Bhabinkamtibmas menjadi lebih luas: hadir, mendengar, mengedukasi sekaligus memberikan motivasi.

Kapolres Halmahera Utara, AKBP Erlichson P.asaribu, S.H., S.I.K., memberikan apresiasi terhadap langkah yang dilakukan AIPDA Yuni Tuange.

Menurutnya, kehadiran Polwan Bhabinkamtibmas di tengah masyarakat merupakan bentuk pelayanan Polri yang mengedepankan pendekatan humanis.

“Sosok Polwan Bhabinkamtibmas adalah garda terdepan yang humanis. Terima kasih kepada AIPDA Yuni Tuange yang telah hadir memberikan motivasi dan edukasi kepada anak-anak kita di Tobelo Selatan. Ini bukti Polri hadir dengan hati untuk generasi penerus bangsa,” ujar Erlichson.

Ia berharap semakin banyak pelajar di Halmahera Utara yang mengetahui peluang pendidikan tersebut dan mempersiapkan diri untuk mengikuti proses seleksi.

“Saya harap semakin banyak anak-anak Halut yang siap bersaing masuk SMA Kemala Taruna Bhayangkara,” tegasnya.

Pagi itu, AIPDA Yuni mungkin hanya menghabiskan waktu beberapa saat bersama para pelajar SMP Negeri 23. Namun pesan yang dibawanya jauh lebih panjang dari durasi sosialisasi.

Sebab terkadang, sebuah masa depan besar bermula dari satu informasi sederhana yang datang tepat waktu—dari seorang guru, orang tua, atau bahkan seorang Polwan Bhabinkamtibmas yang datang ke sekolah dan berkata kepada anak-anak: berani bermimpi, lalu persiapkan diri untuk mewujudkannya (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *